Monday, July 13, 2009

Zakat Kepada Saudara Mara - Us.Adnan Fadhil

Assalamualaikum ust,

Saya ada dua soalan:

1- Bolehkah bayar zakat kepada sanak saudara yang hampir seperti adik beradik sendiri?
2- Bolehkah ister bayar zakat kepada suami atau sebaliknya?

JAWAPAN:

Menurut pandangan yang paling masyhur di kalangan ulamak; orang-orang yang wajib kita menanggung nafkah mereka, tidak harus kita memberi zakat kita kepada mereka. Menurut mazhab Syafi’ie; orang-orang yang wajib dinafkahi terdiri dari;

1. Zuriat kita; merangkumi anak, cucu dan cicit.

2. Asal kita; merangkumi bapa, ibu, datuk, nenek dan sebagainya

3. Isteri

Ahli-ahli keluarga di atas tidak harus kita memberi zakat kepada mereka. Adapun ahli-ahli keluarga yang lain yang tidak wajib kita menanggung nafkah mereka seperti saudara-saudara (yakni adik, abang atau kakak), bapa saudara, ibu saudara, anak saudara dan sebagainya harus kita memberi zakat kita kepada mereka dengan syarat mereka termasuk dalam lapan golongan yang layak terima zakat. Sila baca juga jawapan saya sebelum ini;

(http://ilmudanulamak.blogspot.com/2008/08/zakat-kepada-adik-beradik-yang.html) dan (http://ilmudanulamak.blogspot.com/2008/07/bayar-zakat-kepada-ibubapa.html).

Adapun seorang wanita memberi zakat kepada suaminya (yang fakir atau miskin), terdapat tiga pandangan dari ulamak;

1. Menurut mazhab Syafi’ie, Ibnu al-Munzir dan as-Sauri; harus kerana isteri tidak wajib menanggung nafkah suaminya. Malah pahala yang ia perolehi dengan memberi zakat kepada suami lebih besar dari ia memberinya kepada orang lain berdalilkan hadis dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. yang menceritakan; “Zainab isteri Ibnu Mas’ud r.a. datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata; ‘Wahai Nabi Allah, engkau telah memerintahkan hari ini agar kami bersedekah. Aku mempunyai satu perhiasan milikku, maka aku ingin bersedekah dengannya’. Ibnu Mas’ud (suaminya) mengadu kepada Rasulullah s.a.w. bahawa dia dan anaknya paling layak untuk memberi sedekah isterinya itu. Lalu Nabi berkata kepada Zainab; “Benarlah Ibnu Mas’id. Suami kamu dan anak kamu lebih berhak dengan sedekah kamu itu”. (HR Imam al-Bukhari).

2. Imam Abu Hanifah berpandangan; tidak harus kerana besar kemungkinan zakat itu akan kembali kepadanya apabila suaminya menggunakan wang zakat itu untuk membeli makanan, pakaian atau sebagainya lagi dari perbelanjaan keluarga. Berkenaan hadis tadi, Imam Abu Hanifah menganggap sedekah yang dimaksudkan dalam hadis itu ialah sedekah sunat, bukan zakat yang diwajib.

3. Menurut kebanyakan ulamak mazhab Maliki pula; membayar zakat kepada suami adalah makruh.

Walahu a’lam.

Rujukan;

1. al-Fiqh al-Wadhih, Dr. Muhammad Bakr Ismail, 1/512.
2. Fiqh az-Zakah, Syeikh ‘Abdurrazzaq Nashir Muhammad, hlm. 150

Thursday, July 9, 2009

Syafaat Dari Orang Soleh

Assalamualaikum wr.wb

Pak ustadz,saya pernah membaca suatu buku yang berisi tentang pemberian syafaat.

Di sana tertulis bahwa seorang kyai/udstaz/orang yang menguasai ilmu agama islam dapat memberikan syafaatnya kepada orang atau keluarga yang dikehendakinya.

Setahu saya,yang bisa memberikan syafaat adalah nabi MUHAMMAD saw.

Tolong berikan jawabannya apakah benar demikian?

Terimakasih.

Gilang

Jawapan:

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Gilang yang dimuliakan Allah swt

Orang-orang yang diizinkan Allah swt untuk memberikan syafaat adalah :

1. Malaikat ; berdasarkan firman Allah swt :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

Artinya : “Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al Anbiya : 28)

2. Para Nabi dan yang paling utama adalah Nabi Muhammad saw.

3. Orang-orang shidiq dan yang mati syahid, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda,”… Tidaklah seseorang memberikan syafaat lebih banyak dari pemberian syafaat Nabimu, kemudian para malaikat lalu orang-orang yang mati syahid.’ Didalam riwayat Tirmidzi, Hakim yang dishahihkan oleh Baihaqi,”Akan masuk surga dengan syafaat seorang dari umatku lebih banyak dari Bani Tamim.” Mereka bertanya,”Bukan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Bukan aku” Diriwayatkan oleh Baihaqi juga hadits,”Dikatakan kepada seseorang,’Wahai fulan bangun dan berikanlah syafaat, maka orang itu pun memberikan syafaat kepada kabilahnya, anggota keluarga, satu orang atau dua orang tergantung kadar amalnya.”

4. Orang-orang shaleh yang berbuat baik kepada manusia. Diriwayatkan oleh Muslim sebuah hadits yang panjang tentang syafaat orang-orang beriman kepada saudara-saudaranya yang seharusnya ke neraka. Didalam syarhnya—Nawawi—mengatakan bahwa syafaat orang-orang beriman adalah bagi orang yang masuk neraka lalu Allah memerintahkan orang-orang yang memberikan syafaat agar mengeluarkan mereka darinya atau kepada orang yang seharusnya ke neraka setelah orang itu berada dibarisan yang siap dicemplungkan ke neraka, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berupa syafaat seorang laki-laki yang berada dibarisan yang baik kepada barisan kedua dengan memberikannya minuman atau menunaikan suatu keperluannya di dunia, seperti disebutkan Qurthubi ddidalam tafsir ayat kursi.

5. Para penghafal Al Qur’an, sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ali bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, menghafalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka Allah akan memasukkannya ke surga dan dia bisa memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya seharusnya masuk neraka.”

6. Anak-anak kecil yang meninggal yang belum sampai usia baligh atau taklif. Diriwayatkan oleh Nasai dengan sanad baik,”Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka,’Masuklah ke surga.’ Maka mereka mengatakan,’(Saya akan masuk) sehingga bapak-bapak kami masuk (juga) ke surga.’ Dikatakan kepada mereka,’Masuklah kalian dan bapak-bapak kalian ke surga.” Hadits ini dikuatkan oleh hadits-hadits shahih lain yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 104)

Memang tidak disebutkan secara definitif bahwa seorang ustadz atau kiyai bisa memberikan syafaat kepada orang lain di akherat nanti. Sesungguhnya istilah ustadz atau kiyai hanyalah sebatas gelar yang diberikan manusia kepadanya dikarenakan orang itu memahami tentang ilmu agama. Gelar tersebut bisa saja sesuai atau juga tidak sesuai dengan keinginan Allah swt. Allah swt tidak hanya menginginkan ilmu seseorang akan tetapi pengamalan dari ilmu-ilmu yang dimilikinya itu.

Oleh karena itu apabila seorang ustadz atau kiyai mampu membuktikan ilmu-ilmu yang dimilikinya dengan amal-amal shalehnya, atau sifat shidiq (jujur) terhadap ilmunya, atau bahkan hingga dirinya mati dijalan Allah swt sebagai syahid maka ia berhak untuk memberikan syafaat kepada orang lain setelah mendapatkan izin dari Allah swt tentunya.

Wallahu A’lam

sumber ; eramuslim.com

Nota Pengajian Hadis : Membentuk Peribadi Muslim

Hadis Pertama : Ikhlas Sendi Kehidupan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ.

Ertinya : Daripada Saiyyidina Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia telah berkata, telah bersabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa yang berpisah dari dunia (mati) di atas keikhlasan hanya kerana Allah SWT semata-mata dan beribadah kepada Allah SWT serta tidak menyengutukan Allah, dan mendirikan solat serta menunaikan zakat ; maka dia telah mati dalam keadaan Allah telah redha kepadanya”

Hadis riwayat Imam Ibn Majah – hadis no 69

Huraian Hadis :

1-Ikhlas adalah membersihkan tujuan dan maksud dari selain Allah SWT dalam setiap tindakan dan pekerjaan seumpama riya’, mencari kemasyhuran, mempamerkan amalan kepada manusia, mahu dipuji dan lain-lain dari niat dan sifat yang mazmumah (tercela).

2-Syirik adalah dosa besar yang sangat dicela oleh Allah SWT. Syirik bererti menduakan atau menyengutukan Allah SWT dengan yang lain pada niat dan amalan. Selain daripada itu,

3-Kata Dr ‘Umar Sulaiman Abdullah Al Asyqar di dalam bukunya “Aqidah ; Di Bawah Naungan Al Quran & As Sunnah : “Syirik yang paling besar adalah seorang yang menyembah selain Allah seperti perbuatan Nasara (Kristian) yang mensyirikkan Allah SWT dengan mengatakan tuhan itu berbilang ( 3 tuhan)”

4-Ikhlas yang paling dituntut ialah dalam ibadah kepada Allah SWT seperti solat,puasa,zakat,haji, sedeqah, bacaan Al Quran, dalam menuntut ilmu, jihad dan lain-lain pekerjaan.

5.- Pekerjaan duniawi yang halal jika dilakukan ikhlas kerana Allah SWT juga menjadi ibadah di sisi Allah SWT serta diberi pahala.

6- Dapat kita pelajari dari hadis di atas bahawa hidup yang ikhlas kerana Allah di dalam semua perkara mestilah diiringi dengan tidak syirik pada Allah serta menunaikan solat dan mengeluarkan zakat. Tidak mencukupi hidup yang ikhlas tanpa menunaikan perintah Allah SWT seperti yang dianggap oleh kebanyakkan orang pada hari ini dengan ucapan “biarlah saya tidak solat sekalipun,janji saya ikhlas!”.

7- Ibadah yang ikhlas tidak akan diterima jua jika datang dari hati yang mengandungi syirik serta aqidah yang salah. Dalam ertikata yang lain, ibadah yang terbit dari aqidah yang salah adalah sia-sia, tidak diterima Allah SWT.

8- Ramai umat Islam di zaman ini yang rajiin beribadah akan tetapi dalam masa yang sama amat kuat menentang ajaran Islam seperti menolak penegakan negara Islam, menolak pelaksanaan syariat Islam, menghalalkan pergaulan bebas serta redha dengan maksiat dan pendurhakaan kepada Allah yang berlaku di depan mata

Wednesday, July 8, 2009

Menteri Besar BN Terharu Dengan Kuliah TGNA

KUALA KRAI, 8 Julai (Hrkh) - Kebiasaannya dalam media massa kita sering membaca kecaman keras pemimpin Umno terhadap PAS. Jarang berlaku mereka memuji dan bersetuju biar pun kebenaran berpihak kepada PAS.

Sebaliknya seorang Menteri Besar meluahkan kebenaran yang dibawa pemimpin PAS tidak dapat dinafikan lagi lebih-lebih lagi menyentuh soal agama.

Menteri Besar, Tuan Guru Dato' Nik Abdul Aziz Nik Mat berkata, ada seorang menteri besar memberitahunya sering mendengar kaset ceramah beliau.

"Menteri besar itu paling terasa dan terkesan ketika mendengar ceramah agama saya mengenai alam kubur. Apabila mati kelak, Allah akan tanya masa hidup kamu mengundi parti mana.

"Beliau meluahkan rasa terkesan yang menyentuh jiwa setelah mendengar kaset ceramah tersebut. Dia menceritakan perkara itu ketika sama-sama menghadiri mesyuarat Menteri-menteri Besar dan Majlis Raja-raja Melayu," katanya pada ceramah di Kampung Chuchuh Puteri A di sini, malam tadi.

Ribuan hadir mengikuti ceramah itu biar pun hujan turun agak lebat sebelum itu.
Oleh itu Menteri Besar berharap pengundi di Manek Urai dapat membuat pilihan terbaik untuk terus menyokong kepimpinan Islam sebagaimana kesedaran menteri besar BN terbabit.

"Saya penuh harap pengundi di sini dapat membuat pilihan yang terbaik. Setelah Umno kalah di beberapa pilihan raya kecil sebelum ini termasuk di Permatang Pauh, Kuala Terengganu, Bukit Gantang dan Bukit Selambau, kenapa kita mahu pilih Umno lagi," katanya.

Pada ceramah itu beliau memberitahu telah mengirim surat kepada Perdana Menteri, Dato' Seri Najib Razak untuk mempelawa diadakan debat bagi membincangkan alasan Umno menolak Islam.

"Saya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri yang mengandungi soalan, 'kenapa Umno tolak Islam? "Islam itu bukan PAS yang buat, tetapi kenapa Umno tetap mahu menolak Islam. Sebab itu saya berkempen dan berdakwah hingga ke hari ini untuk Islam," katanya.

Turut hadir pada ceramah malam tadi Ketua Umum KeADILan, Dato' Seri Anwar Ibrahim, Timbalan Pesuruhjaya PAS, Dato' Husam Musa, Ketua Pemuda PAS Kelantan, Ustaz Abdul Latif dan calon PAS Manek Urai, Mohd Fauzi Abdullah. - mj

sumber : harakahdaily

Artikel Ustaz Hasrizal Jamil - MESTI BACA !

MANHAJ SALAF TIDAK MELURUS BENDULKAN SIASAH

Jika tidak banyak yang dapat saya belajar semasa menuntut ilmu di Bumi Syam, ada sesuatu yang sentiasa tersemat di dalam diri hasil sentuhan ilmuan dan pejuang Islam di sana.

Manhaj Salaf tidak pernah mengajar kita menjadi manusia yang naif atau lurus bendul tentang Siasah.

Mungkin itulah satu kelebihan yang banyak ditawarkan oleh peluang pengajian di bumi Jordan.

Para Ulama’ di sana ramai yang bermanhaj muhadditheen, ramai yang mendukung aliran Salaf dalam pendekatan mereka. Namun Ulama’ yang mengisi kerusi-kerusi akademik di sana, bukanlah para ilmuan yang bersantai-santai dengan teori atau di kerusi pemerhati.

Mereka adalah ilmuan yang menjadi pasak di tengah gelanggang.

Bermula daripada gelanggang siasah, hinggalah ke gelanggang qital dan jihad.

“Aku merayu kepada-Mu ya Allah agar aku masuk ke Syurga-Mu dengan kaki yang tempang ini,” kata Sheikh Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris.

Beliau berucap sempena sambutan al-Israa’ wa al-Mi’raaj di Masjid Abdul Rahman bin ‘Auf, Amman, pada suatu malam di tahun 1997.

Tahun itu adalah tahun yang penting buat umat Islam di Jordan apabila kerajaan mengubah sistem pilihanraya dengan mengimplimentasikan Akta 1 Undi yang diperkenalkan pada tahun 1993.

Sheikh Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris bersama seorang lagi tokoh penting bersama beliau iaitu Sheikh Humam Said, adalah dua tokoh politik penting al-Ikhwan al-Muslimun di Jordan. Mereka juga merupakan ahli akademik yang kesarjanaannya bukan sekadar terikat kepada sempadan negara Jordan malah menjadi rujukan ke negara-negara Arab yang lain, jika tidak keterlaluan dikatakan di seluruh dunia.

Sheikh Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris digelar sebagai Abu Siasah. Ketokohannya di dalam ilmu Siasah Syar’iyyah menjadikan beliau salah seorang pakar rujuk di dalam bidang itu. Beliau juga pernah menerima jemputan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia pada era 90′an untuk hadir berkongsi ilmu dan pengalaman di wacana akademik yang dianjurkan. Namun kesarjanaannya di gelanggang akademik tidak menjadikan beliau naif dengan putar belit regim Arab yang sebangsa dan seagama dengannya itu.

Begitu juga dengan Sheikh Humam Said.

Beliau adalah ilmuan Hadith. Kepakarannya di dalam ilmu ‘illah di dalam sanad dan matan menjadikan beliau sebagai salah seorang rujukan penting tatkala subjek berkaitan dibentangkan, sama ada di seminar, mahu pun di dalam viva pelajar-pelajar peringkat Masters dan PhD di bidang Hadith.

Tetapi Sheikh Humam Said tidak naif dan lurus bendul di dalam Siasah.

Sama juga dengan Sheikh Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris, juga Sheikh Abdul Mun’em Abu Zanat yang kesemua mereka itu adalah wakil rakyat di Parlimen Jordan.

Pendirian mereka amat jelas dan tegas, sama ada di dalam soal perkembangan krisis Palestin di seberang sempadan, mahu pun dengan kabinet Jordan dan institusi pemerintahan beraja di negara itu.

Pernah suatu ketika, Sheikh Humam Said ditanya tentang pandangan umum yang meletakkan gerakan Islam seperti al-Ikhwan al-Muslimun sebagai sebuah gerakan pelampau yang menyokong keganasan serta menyetujui idea Takfir. Pandangan itu dikatakan kesan daripada pengaruh pemikiran Sayyid Qutb. Kajian Barat sering mempotretkan Sayyid Qutb sebagai ideologue di sebalik aliran keras dan anti-establishment.

Dakwaan yang turut dijamah oleh kelompok Muslim yang berpenyakit dalam persepsi.

Katanya, “sebelum saya memberikan jawapan, saya mahu mengingatkan anda bahawa rejim Arablah yang telah meninggalkan Islam sebagai sistem politik. Kita mesti menerima kebenaran ini. Al-Ikhwan al-Muslimun tidak sepatutnya ditunding kesalahan tatkala sistem pemerintahan mahu dibincangkan. Kesalahan harus diletakkan kepada pemerintah-pemerintah (rejim) Arab yang enggan melaksanakan Islam.” [Lihat laporan Mshari Al-Zaydi yang disiarkan di akhbar Asharq Al-Awsat bertarikh 30/12/2005]

Sheikh Humam Said adalah seorang yang bermanhaj Salaf. Ilmuan di dalam Hadith. Seorang ahli akademik yang melebihi pangkat seorang mufti. Tetapi ia tidak menjadikan pandangan dan pendiriannya kucar-kacir tatkala membina pendirian yang tegas terhadap pemerintah yang sebangsa dan seagama dengannya tetapi enggan menerima Islam sebagai asas polisi dan moral politik negara.

Itu soal politik.

Soal polisi, pengurusan kuasa, pengendalian tatacara pemerintahan yang membabitkan penghasilan keputusan-keputusan yang secara langsung memberikan impak kepada politik, sosial dan ekonomi rakyat.

DAKWAH

Tetapi ketegasan mereka di dalam pendirian-pendirian siasah tidaklah pula menjadikan mereka tertutup, selektif dan menghadkan ruang dakwah.

Jika di Parlimen, dakwah disampaikan dalam bentuk teguran, nasihat malah amaran kepada seluruh hiraki pentadbiran, tatkala ada kemungkaran yang memerlukan kepada pembetulan. Namun di luar Parlimen, mereka ini gigih berdakwah di halaqah, majlis-majlis ilmu di masjid, di dalam seminar dan di segenap penjuru serta ruang dakwah yang ada.

Seluruh ruang dakwah itu terbuka kepada semua. Sesiapa sahaja yang tulus mahu menambah ilmu pengetahuan tentang Islam, dialu-alukan hadir ke majlis-majlis ilmu ini. Ada yang bermukim di masjid-masjid tertentu seperti Masjid Abd al-Rahmaan ibn ‘Auf, ada juga yang mengadakan majlis ilmu di kediaman-kediaman dan dewan peribadi seperti amalan Dr. Ahmad Naufal, yang juga seorang aktivis dan sarjana akademik.

Ruang dakwah inilah yang menjadi medan untuk seluruh peringkat manusia dididik, ditegur, dibetulkan, didisiplinkan dengan nasihat-nasihat agama dan wasiat iman. Dakwah tidak mengenal label manusia, baik mereka itu petani, nelayan dan pekerja awam, mahu pun tokoh, pemimpin masyarakat, pemimpin politik atau sesiapa sahaja sahaja.

Hatta Firaun yang dicela Tuhan itu pun boleh didatangi oleh Musa untuk menyampaikan teguran, nasihat dan amaran. Dakwah tidak punya batasan. Ia merempuh semua halangan.

Tetapi keterbukaan dan keluasan cita-cita dakwah adalah berbeza sama sekali dengan soal keterbukaan Siasah serta kompromi prinsip. Siasah adalah soal prinsip serta polisi pemerintahan.

Inilah yang membingungkan saya, apabila agamawan-agamawan muda beraliran Salaf yang berkembang pesat di negara kita bercakap dan berfatwa tentang politik.

Tidak dinafikan, mereka amat berjaya menimbulkan satu kesedaran yang perlu ke arah pemurnian dan ketulenan beragama (asolah) dalam aspek Aqidah dan Ibadah.

Tetapi berbeza pula halnya dengan Siasah. Pandangan yang dilontarkan ke tengah masyarakat sering bersifat tekstual dan terpisah di antara teori dengan realiti.

Sasarannya pula adalah PAS. Bantahan, teguran dan pandangan yang sinis tidak habis-habis ditujukan kepada PAS apabila PAS memutuskan untuk tidak meneruskan idea tentang Kerajaan Perpaduan. Isu yang sudah selesai di antara Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat ini, masih dibahasakan oleh tokoh-tokoh agama ini seolah-oleh justifikasi yang diberikan oleh PAS tentang penolakan tersebut tidak mempunyai sebarang makna kecuali satu, TAASUB KEPARTIAN.

Itulah kalimah yang diulang saban hari, sebagai label agamawan-agamawan bermanhaj Salaf ini.

SERUAN MAAF

PAS diseru supaya lebih pemaaf, melupakan sengketa lama dan bergerak ke arah perpaduan.

Soalnya, apakah PAS mempunyai hak untuk memaafkan kesalahan orang lain kepada Allah dan kepada umat? Bertindak zalim ke atas rakyat dengan akta-akta yang menafikan hak dibicarakan, membelakangkan hukum hakam Allah dalam polisi-polisi politik, ekonomi dan sosial, semua itu bukannya kesalahan terhadap PAS yang boleh PAS maafkan. Ia adalah kesalahan yang mencabuli HAK ALLAH dan hanya pelaku salah itu sahaja yang boleh mengubah keadaan ini dengan membuat perubahan di peringkat dasar.

Maaf memaafkan adalah tuntutan besar yang mesti disuburkan di dalam Islam.

Namun, memaafkan individu berbeza daripada memaafkan sebuah kuasa pemerintahan.

Tiada sesiapa yang mempunyai hak untuk memaafkan kesalahan seseorang andai kesalahan itu membabitkan hak Allah dan hak orang ramai, bukan hak peribadi atau hak parti. Perjuangan PAS bukan mempertahankan kepentingan parti, tetapi memperjuangkan apa yang didefinisikan Islam sebagai hak Allah dan kepada serta daripada Allah jua kemaafan itu harus dicari juga diberi.

ANTI PERPADUAN?

Keputusan menghentikan usaha ke arah pembentukan Kerajaan Perpaduan itu pada masa ini juga bersesuaian dengan mandat yang diberikan pada Pilihanraya Mac 2008 yang lalu.

Rakyat yang mengundi Pakatan Rakyat, mereka memberikan undi atas mandat menentang apa yang dianggap sebagai kezaliman Barisan Nasional, serta mandat mengurangkan majoriti BN di pesada kuasa. Inilah mandatnya. Jika sesuatu ingin dibuat berlawanan dengan mandat ini, ia harus dikemukakan sebagai manifesto Pilihanraya Umum akan datang dan terserahlah kepada rakyat sama ada melihat perkongsian kuasa antara BN dan PR menjadi pilihan mereka, atau sebaliknya.

Mengubah dasar itu selepas diberi mandat, adalah suatu pengkhianatan.

Hal ini sudah jelas dan menjadi keputusan yang difahami bersama di antara Pakatan Rakyat dan Barisan Nasional. Malah Barisan Nasional juga sudah tidak lagi menggunakan bahasa-bahasa empati kepada PAS sebagaimana ketika isu ini hangat tempoh hari, sebaliknya kembali kepada bahasa asal mereka.

Tetapi apa yang menimbulkan kehairanan kita ialah apabila persoalan yang sudah tamat ini, masih lagi dibicarakan oleh agamawan-agamawan ini, dengan tumpuannya kepada membayangkan PAS sebagai pihak yang berdendam, anti perpaduan dan mengutamakan permusuhan.

BERBEZA DENGAN DAKWAH

Politik ialah soal pengurusan bidang kuasa.

Ada pun semangat dakwah, berpesan-pesan dengan kebenaran dan bertolong-tolongan dalam perkara kebajikan dan taqwa, ia suatu medan yang berbeza.

Jika dilihat kepada pemimpin-pemimpin PAS seperti Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang selaku Presiden, dan Tuan Guru Nik Abdul Aziz selaku Mursyid al-Am, mereka adalah Ahli Parlimen, Ahli Dewan Undangan Negeri, Menteri Besar dan Pesuruhjaya PAS Negeri dalam konteks siasah. Tetapi mereka adalah ustaz, tuan guru, pendakwah dan pendidik yang tidak pernah berhenti mengajar di kuliah-kuliah dan ceramah, membuka kitab dan juga bercakap soal ilmu dengan penuh kesarjanaan.

Malah mereka berdua juga mendukung manhaj Salaf di dalam pendekatan mereka memahami nas dan tafsiran agama.

Tetapi di dalam siasah, mereka tidak naif atau lurus bendul, menjadi tekstual dalam memindahkan 1001 petikan al-Quran, Sunnah, Sirah dan Sejarah kepada realiti.

Jauh sekali saya mahu melabel maksum kepada sesiapa sahaja kecuali Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam. Tetapi sekurang-kurangnya aspek ini harus diberi perhatian.

Siasah adalah seni pemerintahan yang bukan hanya bergantung kepada keterangan teks ilmu, tetapi ia memerlukan kepada pandangan jauh, pengalaman yang luas dan panjang, agar kita sama-sama faham mengapakah Yazid bin Muawiyah menjadi pemimpin umat, ketika sahabat-sahabat yang senior masih ada.

Siasah dan kepimpinan bukan sekadar sebuah kesarjanaan.

Ia adalah ketajaman membaca persekitaran dan kebijaksanaan dalam memimpin.

Ada pun soal dakwah, ia adalah kenderaan berat yang merempuh semua halangan persepsi, label, ketua negara atau banduan penghuni penjara. Sesiapa sahaja yang memberi ruang kepada dakwah, menjadi satu kesalahan bagi pendakwah untuk mensesiakannya.

Tetapi kompromi siasah dan perkongsian kuasa, ia adalah subjek yang berbeza.

Saya mempelajarinya dari teladan para ilmuan yang bukan bersantai di kerusi pemerhati, tetapi mengotorkan kaki dengan jerih dan pedih realiti umat.

Terkenang kepada kata-kata Sheikh Dr. Mustafa Abu Zaid di selatan bumi Urdun:

Manhaj Salaf bukan manhaj yang menyingkatkan jubah, mengisi sugi di dalam kocek, menyimpan janggut dan bertudung kepala dengan serban merah. Ia adalah manhaj yang bersama-sama dengan sekalian kaum Muslimin dan Muslimat, membebaskan bumi Palestin, dan mengembalikan Hakimiyyah Allah!

Moga teladan itu tidak dilupakan.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

Tuesday, July 7, 2009

Allah Nak Buktikan Kita Adalah HAMBA!

Salam perjuangan buat semua sahabat,

Benarlah apa yang telah diperingatkan oleh Kekasih Agung kita, Muhammad SAW bahawa 2 nikmat yang manusia selalunya lalai dari keduanya iaitu nikmat kelapangan masa dan nikmat sihat.

Islam mengajar kita supaya menyusun setiap tindakan yang ingin kita lakukan dengan baik serta mengikut keutamaan. Kerja yang bertangguh adalah perkara yang tidak digalakkan di dalam Islam sementara gopoh pula ada pekerjaan syaitan serta ketenangan itu dari Allah SWT.

Memanafaatkan masa terluang dengan perkara berfaedah akan menjadikan kita dapat mengukur kejayaan hidup sendiri. Sejauhmana kita mampu melonjak untuk menggapai kejayaan duniawi dan ukhrawi adalah sebenarnya terletak kepada sejauhmana kita berjaya memanafaatkan masa.

Para ulama' telah mencadangkan agar kita membahagikan masa kepada :

Pertama ; sebahagian untuk ibadah,ilmu,zikir serta ketaatan kepada Allah SWT.

Kedua ; untuk bekerja mencari rezeki yang halal untuk diri dan tanggungan.

Ketiga ; untuk kerehatan tubuh serta muhasabah kearah peningkatan kualiti hidup.

Nikmat kesihatan juga penting. Saya sendiri sudah 6 hari sakit belakang. Pergerakan jadi susah dan payah. Terperap di rumah adalah sesuatu yang memeritkan jiwa. Namun kesakitan ini memaksa tubuh direhatkan.

Terkenanglah di saat ini nikmat kesihatan kurniaan Allah yang sangat berharga dan tiada nilai setaranya.



Di waktu ini kita baru faham kenapa Rasullah suruh kita berebut nikmat kesihatan. Rupanya sihat ni nikmat yang sangat manis dan mahal harganya. Betul juga kata ulama' ; waktu sakit macam ni baru terasa sihat begitu berharga. Waktu sakit macam inilah terasa rugi tidak dapat beribadat dengan sempurna dan lain-lain.

Apa yang penting, bila Allah uji kita dengan sakit, kita di suruh sabar dan selalu muhasabah diri. Sakit adalah ujian Allah untuk hapuskan dosa kita yang lalu. Syaratnya sabar dan hisab yakni renung jauh ke dalam diri :

Pertama : Allah jadikan kita sakit sebab nak suburkan jiwa kehambaan dalam diri kita. Firaun hanay bersin sekali seumur hidupnya dan tak pernah sakit. Sebab itu, akhirnya dia mengaku jadi Tuhan!. Bila sakit kita sebut aduh!..aduh!..sepatutnya kalau dah kuat sangat tak payah berbunyilah. Inilah lemahnya kita sebagai hamba.

Kedua : Allah nak kita tawadhuk dan jangan sombong. Sebab tu Allah tunjukkan lemah kita di mana.

Ketiga : Sakit juga dapat angkat darjat kita dari Muslim biasa kepada Mukmin yang sabar dengan taqdir Allah serta redha pada ketentuan Allah SWT.

Keempat : Waktu sakitlah kita kena renung dosa-dosa yang kita dah lakukan pada Allah. Moga Allah pelihara aib kita semua dunia akhirat.

Kesimpulannya ; kita buat pahala lumayan dengan sakit yang menimpa kita.


Lawan UMNO - Kempen Supaya Manusia Sedar

Mursyidul Am Pas, Tok Guru Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat menegaskan kenyataannya menyamakan UMNO dengan komunis dan ajaran sesat bukan strategi untuk memancing undi bagi Pilihan Raya Kecil Dewan Undangan Negeri (DUN) Manek Urai.

Beliau menyifatkan setiap kenyataannya sebagai ‘kempen’ kepada manusia dan akan dibuat sepanjang masa semata-mata kerana mahu menegakkan agama Islam.

Katanya, sekiranya tidak ada pilihan raya sekalipun, beliau akan tetap mengeluarkan kenyataan tersebut ketika berceramah atau menyampaikan kuliah.

“Waktu saya buat kenyataan itu, saya buat kenyataan kerana Allah. Kempen saya kepada manusia supaya sedar.

”Selagi tidak turut kepada agama, manusia akan meraba dalam hidup dia dan bagaimana kita nak pastikan laluan ke syurga kalau kita tinggal agama.

“Kaitan itu (berkempen) munasabah pilihan raya, kalau tidak ada pilihan raya pun saya tetap berkempen Islam, sama saja.

”UMNO dengan Pas baru 50 tahun (penubuhan), Islam sudah 1,500 tahun,” katanya kepada pemberita di sini hari ini.

Kelmarin Penasihat Pilihan Raya Pas Kelantan, Datuk Wan Abdul Rahim Wan Abdullah berkata, parti itu percaya tindakan UMNO ‘menyentuh’ Nik Abdul Aziz dalam kempen Pilihan Raya Kecil DUN Manek Urai akan lebih menguntungkan parti itu.

Justeru, pihaknya membuka ruang seluas-luasnya kepada UMNO untuk menyerang peribadi pemimpin itu yang kebelakangan ini membuat pelbagai kenyataan keras mengecam UMNO.

Ketika mengulas dakwaan Pas memfitnah UMNO dengan menyebarkan bahawa parti itu menolak Islam, Tok Guru Nik Abdul Aziz yang juga Menteri Besar Kelantan berkata, perkara itu adalah kenyataan dan menyifatkan UMNO bermuka-muka dalam perjuangannya.

“Tolak Islam ini sama ada secara total atau tolak secara buat-buat. Zaman Nabi ada Abdullah bin Ubai. Dia buat masjid, tapi masjid itu ditolak. (UMNO) buat Islam tetapi dalam perutnya tolak. Orang panggil munafik, tolak juga,” katanya.

Beliau meminta anak-anak Kelantan yang menjadi pengundi di Manek Urai supaya kembali mengundi dengan menyifatkan tanggungjawab itu sebagai ‘kerja agama’ dan bukannya politik.

Penamaan Calon bagi Pilihanraya Kecil DUN Manek Urai akan diadakan pada hari ini 6 Julai. 2009. jika ada pertandingan, Pengundian akan diadakan pada 14 Julai 2009.


sumber: Jiwokelate

Fatwa Syeikh 'Athiyah Saqar : Solat (6)

Soalan 6 : Adakah boleh seseorang solat sunnat di rumah kemudian mengerjakan solat jemaah di masjid?

Jawapan : Ya boleh. Terdapat di dalam bab ‘memberi ingat solat sunat di rumah’ , ini kerana solat ersebut adalah cahaya, semestina kita menerangi rumah kita dengan solat-solat sunat ini.

Diriwayatkan oleh Muslim, Nabi s.a.w bersabda : Apabila seseorang kamu sering bersembahyang di masjidnya maka jadikanlah rumahnya juga mendapat habuan untuk solat di dalamnya, sesungguhnya Allah s.w.t memberikan kebaikan atas solat yang dikerjakan di dalam rumahnya.

Berkata Imam an-Nawawi : Digalakkan solat sunat di rumah atas sebab dikhuatiri sifat riak.

Monday, July 6, 2009

Tanda Munafiq 4 : Mengingkari Taqdir Allah SWT

Imam Ath Thabrani rahimahulLah telah meriwayatkan sebuah hadis qudsi: “Barangsiapa yang tidak redha dengan ketentuan taqdirKu maka carilah tuhan selain Aku”.

Diantara perkara yang memerlukan ketundukan mutlak kepada Allah serta penyerahan diri yang sebulat-bulatnya ialah menerima taqdir dan segala ketentuan Allah SWT ke atas kita sebagai hambaNya. Selain dari hokum dan syariat, taqdir serta qadha’ qadar adalah antara perkara yang tiada campur tangan manusia sedikitpun.

Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan).” Surah Al Qamar : 49

Dan firman Allah lagi :

“Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.” Ath Thalaaq : 3

Seorang mukmin senantiasa tunduk kepada ketentuan Allah. Baik buruk serta aqibah dari setiap perkara yang menimpa dirinya diserahkan sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT.

Antara perkara yang mendorong seseorang itu pasrah kepada ketentuan Allah ialah :

1. Ilmu yang menyuburkan keimanannya serta keyakinannya kepada setiap ketentuan Allah itu ada hikmah dan kebaikannya.
2. Kesedaran yang tinggi bahawa manusia sebagai hamba ciptaan Allah SWT sememangnya tiada kuasa dan kekuatan untuk menolak segala ketentuan dan kemahuan Allah SWT.
3. Meyakini bahawa jika diuji dengan musibah dan ujian yang tidak disukainya, maka itu semua adalah untuk membersihkan dirinya dari dosa yang lalu.
4. Kesabaran dan ketaatan dalam menerima ketentuan taqdir Allah akan menyebabkan kemuliaan dan darjatnya diangkat di sisi Allah SWT.
5. Besarnya pahala sabar dan pasrah kepada ketentuan Allah serta janji syurga dari Allah SWT.

BAGAIMANA PULA DENGAN MUNAFIQ?

Antara sifat kaum munafiq adalah ingkar serta enggan menerima dan tidak mahu tunduk kepada taqdir dan ketentuan Allah SWT. Ini adalah kerana kepalsuan iman mereka tidak akan menguatkan iman serta keyakinan hati mereka kepada Allah SWT. Sesuatu yang palsu tidak kuat dan tidak kukuh. Lama kelamaan warnanya akan luntur, lusuh dan akhirnya akan pecah dan rosak.

Sebenarnya rahsia nifaq dalam hati munafiq itu hanya menunggu masa untuk pecah dan rosak. Taqdir dan ketentuan Allah SWT lah yang akan mendedahkan kepalsuan serta memecahkan pekung di dada mereka.

Orang munafiq tidak mampu dan tidak tahan berdepan dengan ujian Allah. Mereka menganggap taqdir Allah hanya menyusahkan serta memberatkan serta memayahkan mereka. Sedang Mukmin dengan keteguhan iman, berdepan dengan taqdir Allah dengan redha serta sabar.

Semoga Allah mengurniakan kita hati yang tunduk, redha serta sabar dalam mendepani ujian serta taqdir Allah SWT.

Friday, July 3, 2009

Dalam Terang Kita Berhujjah

Salam Islah,

Semoga Allah SWT menyatukan hati-hati kita semua serta menjadikan kita senantiasa bersangka baik dengan pimpinan perjuangan dan jamaah yang kita dokong (baca: PAS).

Saya terbaca beberapa kritikan, pandangan serta tulisan kawan-kawan serta sahabat-sahabat kita dalam beberapa blog berkenaan tindakan Pemuda Pas Pusat mengajak (baca: cabar ajak debat) Pemuda UMNO untuk bertemu dalam arena “Hujjah” dengan tajuk : “Benarkah Perjuangan UMNO Tidak Bertentangan Dengan Islam”.

Saya gembira dengan sikap terbuka yang wujud antara kita dalam mengkritik dan bersedia menerima kritikan. Sememangnya kritikan itu pedih dan susah diterima. Namun inilah sunnah yang telah Allah tetapkan di muka bumi. Moga adab-adabnya terus terpelihara berkat keihkhlasan kita semua.

Saya melihat wacana ini tidak berlaku dalam gelap. Jadi saya tak nampak masalahnya. Tantawi sendiri sebut, ia mesti diadakan secara terbuka dan kalau boleh mesti disiarkan melalui kaca televisyen. Ini cukup bagus supaya rakyat yang tak pernah hadir dalam ceramah, kuliah dan program PAS serta tak pernah membaca surat khabar PAS (walau diberi percuma sekalipun ) dapat mengetahui dengan jelas di mana titik pemisah antara kedua-dua ideologi perjuangan ini.

Tok Guru Nik Aziz sebut di Kelantan seperti yang tersiar dalam SINAR HARIAN bahawa pertembungan dua parti di Manek Urai bukanlah pertemua antara dua calon, akan tetapi ia adalah pertembungan antara dua ideologi! . Antara Islam dan thagut, antara hakikat Islam dan saki baki tinggalan jahiliyah.

Nah! Wacana inilah medan pemerkasaan dakwah kita. Debat dan wacana terbuka untuk menentukan siapa pejuang Islam sebenar. Tidak timbul soal menyambung talian hayat UMNO dan Pemuda PAS jilat ludahnya.

Kita takut Tantawi kalah? Kenapa takut? Kita tak yakin dengan kebenaran yang kita dokong? Janji Allah akan menolong kebenaran kita nak buang kemana?

Pemuda PAS pasti akan sebut kesesatan UMNO seperti yang TGNA sebut. Ini saya yakin. Tolak hudud masuk syurga kah? Halalkan yang Allah haramkan bukankah bertentangan dengan Islam?. Semua ini akan disebutkan dengan hujjah yang diturunkan di langit bahkan sudah barang pasti semua kesesatan UMNO yang bertentangan dengan Islam dalam setiap cabang kehidupan (pendidikan, ekonomi, undang-undang, keadilan, politik) semuanya akan didedahkan kepada semua rakyat terutamanya yang sememangnya tidak pernah dengar suara PAS kerana disembunyi dan dipekakkan oleh UMNO.

Saya sentiasa berdoa kepada Allah agar PAS diangkat kemuliaan dan kebenarannya melalui keikhlasan serta ketajaman hujjah para pimpinannya. Moga kalian ditunjuki Allah kepada taqwa dan islah.